Perayaan Hari Buruh atau Labor Day di Amerika Serikat setiap tahunnya sering kali dimanfaatkan oleh pimpinan serikat pekerja untuk mendesak perluasan kewenangan koersif dari pemerintah. Alih-alih merayakan dedikasi pekerja, para pejabat serikat kerap menggunakan momen tersebut guna menonjolkan pengaruh politik dan melindungi posisi istimewa mereka.
Presiden National Right to Work Committee, Mark Mix, menyatakan bahwa sistem serikat saat ini sebagian besar bertumpu pada kekuasaan yang didukung oleh regulasi federal, di mana pekerja di 24 negara bagian tanpa undang-undang hak untuk bekerja dipaksa membayar iuran di bawah ancaman pemecatan. Kebijakan satu ukuran untuk semua ini mengabaikan hak suara dan keberatan individu pekerja.
Berdasarkan survei terbaru dari Rasmussen Media Group, tercatat sebanyak 79% anggota serikat saat ini menyetujui pernyataan bahwa pekerja tidak boleh dipaksa bergabung atau membayar iuran serikat sebagai syarat kerja. Meskipun demikian, para pejabat serikat tetap mendorong pengesahan undang-undang yang memperluas kekuasaan wajib tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSalah satu regulasi kontroversial yang didorong oleh kalangan serikat besar adalah PRO Act, yang dinilai dapat menghapuskan undang-undang hak untuk bekerja dan memberlakukan iuran wajib di berbagai wilayah. Kebijakan ini menuai kritik karena dianggap menghilangkan metode pemungutan suara rahasia serta membatasi hak pekerja untuk mencopot serikat.
Seruan Prinsip Sukarela dalam Gerakan Buruh
Ambisi para pemimpin serikat modern dinilai telah menyimpang jauh dari pandangan awal para pendiri gerakan buruh terdahulu yang menjunjung tinggi asas kesukarelaan. Semangat kebebasan murni kini kerap dikesampingkan demi kepentingan politik kelompok tertentu.
Dalam pidatonya pada konvensi American Federation of Labor tahun 1924 silam, Samuel Gompers selaku pelopor gerakan buruh di Amerika Serikat pernah menegaskan pentingnya menjunjung tinggi prinsip voluntarisme atau kesukarelaan bagi kebebasan manusia.
"Tidak ada kemajuan abadi yang pernah lahir dari paksaan," ujar Gompers dalam catatan historis gerakan pekerja tersebut mengenai pentingnya hubungan kerja yang dibangun atas dasar sukarela tanpa tekanan.
Melalui momentum perayaan Hari Buruh ini, para pengamat menilai bahwa sikap pro-pekerja yang sesungguhnya harus diwujudkan dengan menolak retorika koersif dan mengembalikan kebebasan penuh dalam memilih bagi setiap tenaga kerja.