Sebagaimana diwartakan oleh media Turki Hürriyet, pemerintah Israel kembali menghidupkan rencana kontroversial terkait pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza. Berdasarkan laporan yang beredar, Tel Aviv saat ini dikabarkan tengah menunggu lampu hijau serta persetujuan resmi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengeksekusi rencana tersebut.
Dalam keterangannya pada sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Yedioth Ahronoth, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa pihaknya telah merampungkan seluruh persiapan yang diperlukan. Katz secara terbuka mengeklaim bahwa tidak akan pernah ada solusi nyata bagi wilayah Gaza tanpa adanya pemindahan penduduk secara permanen.
Menurut laporan tersebut, rencana yang sebelumnya kerap menuai kecaman internasional kini mengalami perubahan taktik komunikasi. Pemerintah Israel dilaporkan mengganti istilah "gönüllü göç" atau migrasi sukarela menjadi "Hareket Özgürlüğü" atau Rencana Kebebasan Bergerak untuk menghindari kecaman publik global serta instruksi ketat kepada pejabat keamanan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain itu, Katz juga mengeklaim bahwa sebagian besar warga Gaza ingin meninggalkan wilayah konflik tersebut. Namun, kebijakan ini dinilai oleh berbagai pihak internasional sebagai bentuk pemindahan paksa yang terselubung dan berpotensi menghapus eksistensi serta hak-hak dasar masyarakat Palestina secara sistematis.
Dikutip dari sumber internasional, langkah Israel mengincar dukungan Washington bertujuan untuk menekan negara-negara kawasan agar bersedia menampung para pengungsi. Meskipun demikian, rencana ini menghadapi jalan terjal menyusul penolakan keras dari negara tetangga seperti Mesir yang menegaskan bahwa penggusuran warga Gaza merupakan garis merah yang tidak boleh dilanggar.