Sebagaimana diwartakan oleh media, fenomena cuaca ekstrem El Nino saat ini sudah mulai memicu gelombang kerusakan di berbagai belahan dunia. Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO memperingatkan bahwa pola iklim yang semakin menguat ini membawa risiko besar berupa gelombang panas, banjir bandang, kekeringan parah, serta cuaca ekstrem yang akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.
Dalam laporan terbarunya, WMO menyatakan terdapat probabilitas hampir seratus persen bahwa El Nino akan bertahan hingga Februari mendatang. Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengungkapkan bahwa dampak kehancuran dari kekeringan dan banjir sudah mulai terlihat nyata di tengah masyarakat global.
"Kita sudah melihat gangguan dan kehancuran akibat kekeringan serta banjir, dan kita memperkirakan dampak ini akan terus meningkat seiring menguatnya El Nino," ujar Celeste Saulo sebagaimana dikutip dari laporan berita.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFenomena global ini diprediksi akan mencapai puncaknya dengan intensitas yang sangat tinggi menjelang akhir tahun. Kondisi tersebut berpotensi memecahkan rekor suhu panas global, yang dampaknya diperkirakan masih akan dirasakan hingga tahun 2027 mendatang. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut menegaskan bahwa planet bumi saat ini telah memasuki wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat perubahan iklim.
Dampak nyata El Nino juga dirasakan secara langsung di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ribuan hektare lahan terbakar akibat musim kemarau yang semakin intensif, memicu kabut asap beracun yang memaksa jutaan pelajar harus belajar dari jarak jauh demi kesehatan mereka.
Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli Antoni, menyatakan bahwa upaya pemadaman kebakaran kini sedang memasuki fase yang sangat krusial. "Masalah kita belum selesai karena September adalah puncak dari El Nino," ungkapnya seperti dilansir dalam laporan media.
Selain masalah kebakaran hutan dan kabut asap di Asia Tenggara, sejumlah negara di Amerika Tengah dan Selatan juga telah menetapkan status darurat. Program Pangan Dunia turut memperingatkan bahwa El Nino merupakan ancaman masif bagi ketahanan pangan jutaan orang, dengan proyeksi lonjakan kerawanan pangan yang signifikan di berbagai wilayah terdampak.