Sebuah kapal supertanker yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan menabrak dua ranjau laut pada Senin, hanya berselang beberapa hari setelah pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menyatakan jalur pelayaran penting tersebut telah steril dari bahan peledak.
Berdasarkan keterangan resmi dari Angkatan Laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang disiarkan oleh kantor berita Tasnim, kapal tanpa identitas tersebut mengalami kebakaran dan terpaksa berhenti setelah kontak dengan ranjau.
"Kapal tersebut mencoba melewati rute ilegal di sebelah selatan Selat Hormuz sebelum akhirnya bersentuhan dengan ranjau," tulis pernyataan resmi pihak IRGC Navy pada Senin.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePihak IRGC menegaskan kembali bahwa kepatuhan terhadap regulasi keamanan yang dikeluarkan oleh militer Iran dalam melintasi perairan Selat Hormuz merupakan kewajiban mutlak bagi setiap kapal.
Klaim AS dan Ketegangan di Perairan Hormuz
Sebelum insiden ini terjadi, Presiden Donald Trump dan Komandan US Central Command Laksamana Madya Brad Cooper sempat mengklaim bahwa jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz telah berhasil dibersihkan dari seluruh ranjau laut.
Namun, data dari lembaga independen Hormuz Strait Monitor mencatat bahwa volume pelayaran harian di kawasan tersebut masih berada di kisaran 8,3 persen dari kapasitas normal akibat ratusan kapal yang masih tertahan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan strategis ini telah berlangsung selama berbulan-bulan, di mana Iran membatasi jalur komersial menggunakan ranjau, drone, serta artileri sejak konflik bermula.
Insiden ledakan ranjau ini juga terjadi hanya berselang beberapa jam setelah militer AS melancarkan serangan udara terhadap dua peluncur roket di sebuah pulau di wilayah Selat Hormuz pada hari Minggu.