Sebagaimana diwartakan oleh majalah Marianne, sutradara kondang peraih empat penghargaan César dan satu piala Oscar, Jean-Jacques Annaud, baru-baru ini membagikan pandangan filosofis serta renungannya mengenai dunia seni dan hiburan. Dalam wawancara eksklusif tersebut, ia dijadwalkan tampil dalam sebuah acara konser simfoni sinematik di Palais des Congrès de Paris untuk merayakan perjalanan karya-karya ikoniknya.
Berdasarkan laporan media tersebut, Annaud tidak ragu melontarkan kritik tajam terhadap medium televisi konvensional dengan menyebutnya sebagai bentuk sajian instan yang datang begitu saja tanpa memberikan nilai reflektif yang mendalam bagi penontonnya.
Di sisi lain, sutradara di balik film terkenal seperti The Name of the Rose ini juga mengungkapkan ketertarikannya yang mendalam terhadap budaya Asia, khususnya sejarah revolusioner Tiongkok. Mengutip pernyataan sang sutradara dalam wawancara tersebut, "Buku terakhir yang mengguncang saya adalah sebuah biografi tentang Sun Yat-sen, seorang tokoh revolusioner Tiongkok, karena saya sangat terpesona oleh kawasan Timur Jauh sejak masa penggarapan film L"Amant".
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKecintaannya pada kawasan Asia bukan tanpa alasan, mengingat ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di berbagai negara Asia termasuk Tiongkok untuk menggarap proyek film berskala besar. Pengalaman panjang tinggal di Beijing bahkan menginspirasinya untuk terus mendalami transformasi sejarah kawasan tersebut serta merencanakan proyek kreatif selanjutnya.
Melalui berbagai karya besar yang telah melintasi batas negara, Jean-Jacques Annaud terus membuktikan dedikasinya yang tinggi terhadap dunia sinema internasional. Acara konser simfoni yang akan datang pun diproyeksikan menjadi panggung nostalgia bagi para penikmat film untuk mengenang kembali deretan mahakarya visual yang pernah diciptakannya.