Sebagaimana diwartakan dalam laporan Liputan6, Taman Nasional Gunung Halimun Salak memiliki peran yang sangat krusial bagi keberlangsungan makhluk hidup serta penyangga aktivitas manusia.
Berdasarkan hasil survei menggunakan ratusan kamera pengintai, tercatat sebanyak 51 individu macan tutul Jawa atau Panthera pardus melas berhasil diidentifikasi mendiami kawasan tersebut.
Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, menyatakan bahwa temuan jumlah individu ini memberikan informasi berharga untuk menentukan langkah konservasi jangka panjang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Angka 51 memberi kita informasi yang sangat berharga, tetapi konservasi tidak berhenti pada berapa individu yang berhasil terekam," ujar Hariyo sebagaimana dikutip dari laporan Liputan6.
Selain macan tutul Jawa, kamera pengintai juga merekam keberadaan berbagai satwa liar dilindungi lainnya seperti trenggiling, lutung Jawa, surili Jawa, elang Jawa, kucing kuwuk, hingga landak Jawa.
Kendati demikian, hasil pemantauan juga mengindikasikan adanya berbagai bentuk tekanan terhadap habitat alami satwa, mulai dari perburuan liar, pembalakan, perambahan, hingga aktivitas kendaraan manusia.
Menanggapi tantangan tersebut, upaya pemulihan habitat dan pengembangan koridor hijau terus digalakkan guna menjaga konektivitas antarwilayah bagi satwa liar.
Di sisi lain, kawasan dengan ekosistem yang kaya ini juga menyimpan potensi sumber daya energi panas bumi yang telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.
Dikutip dari laporan media, Star Energy Geothermal Salak saat ini mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas mencapai 403,2 megawatt di kawasan tersebut.
Keberadaan fasilitas energi di tengah kawasan konservasi ini menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan energi dan perlindungan keanekaragaman hayati.