Mengutip laporan media, perkembangan kecerdasan buatan atau AI yang sangat pesat kini memunculkan perdebatan global mengenai dampaknya terhadap kehidupan umat manusia di masa depan.
Berdasarkan laporan yang ada, kekhawatiran utama para ahli adalah apakah teknologi AI benar-benar akan memperbaiki kualitas hidup manusia atau justru mengancam nilai-nilai dasar kemanusiaan.
Isu krusial tersebut menjadi sorotan utama dalam ajang World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan berbagai pemimpin dunia, akademisi, tokoh agama, hingga pelaku industri teknologi di Bali.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeRangkaian forum tingkat tinggi ini resmi dimulai melalui Bali Harmony Dialogue di United In Diversity Bali Campus, yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali.
Pertemuan penting tersebut kemudian dilanjutkan dengan agenda XI International Scholas Chairs Congress 2026 yang membahas multidimensi dampak AI bagi kehidupan global.
Para peserta yang hadir dari lima benua secara khusus menyoroti berbagai isu strategis, mulai dari sektor pendidikan, lanskap dunia kerja, hingga kesehatan mental generasi muda.
Selain itu, para delegasi juga menyoroti adanya kesenjangan digital yang tajam antarnegara dalam hal akses data, daya komputasi, infrastruktur, hingga regulasi teknologi.
Menurut Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan, Indonesia harus mampu membangun kapasitas mandiri agar tidak sekadar berposisi sebagai konsumen teknologi global.
"Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM," tandas Luhut sebagaimana diwartakan.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa tingginya adopsi AI oleh generasi muda harus diimbangi dengan penguatan riset dan talenta lokal.
"Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," ujar Meutya seraya menekankan pentingnya posisi Indonesia sebagai pencipta teknologi.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado, turut mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mengukur kecanggihan mesin.
Sebagaimana diberitakan, dunia internasional juga dituntut untuk menentukan arah peradaban serta profil manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi canggih tersebut.