Milo Yiannopoulos dideportasi ke Inggris oleh otoritas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat atau ICE pada hari Jumat, satu hari setelah agen federal menangkapnya di Bandara Internasional Louis Armstrong New Orleans di Kenner, Louisiana.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyatakan bahwa Yiannopoulos secara resmi memasuki wilayah AS melalui New York City pada 14 Mei 2019 tetapi memilih untuk tinggal melebihi batas waktu visa yang diizinkan.
Hakim imigrasi mengeluarkan perintah pengusiran final pada 22 Juli setelah warga negara Inggris tersebut mangkir dari jadwal sidang imigrasi yang telah ditentukan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebelum dipulangkan ke negaranya, Yiannopoulos sempat ditahan di fasilitas penahanan ICE di Alexandria, Louisiana, yang menjadi pusat utama operasi deportasi badan tersebut.
Kebijakan Penegakan Imigrasi Terbaru di Amerika Serikat
Pihak DHS memanfaatkan proses pemulangan Yiannopoulos untuk menyampaikan peringatan tegas kepada para imigran ilegal serta menegaskan kembali kebijakan penegakan hukum imigrasi di bawah pemerintahan Presiden Trump.
DHS mengumumkan pembatalan kebijakan sebelumnya yang dinilai membolehkan imigran gelap bepergian bebas dengan pesawat ke berbagai wilayah di dalam negeri tanpa tujuan keberangkatan yang jelas.
Pemerintah AS kini mewajibkan agar perjalanan udara oleh individu ilegal hanya diizinkan apabila berkaitan langsung dengan proses deportasi atau kepulangan sukarela ke negara asal.
Selain itu, DHS mengimbau para imigran ilegal untuk memanfaatkan aplikasi CBP Home guna mengatur kepulangan sukarela dengan tawaran bantuan dana sebesar US$3.000 serta fasilitas penerbangan gratis.