Bahasa Badui atau bahasa Sunda dialek Badui merupakan identitas kebudayaan penting yang dituturkan oleh suku Badui di wilayah pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Berdasarkan data tahun 2015, jumlah penutur bahasa daerah ini tercatat mencapai 11.620 jiwa.
Dari segi linguistik, bahasa Badui masih masuk ke dalam rumpun bahasa Sunda serta diklasifikasikan sebagai bahasa yang aman atau tidak terancam punah oleh Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia. Mayoritas masyarakat Badui Dalam hidup terisolasi dari dunia luar sehingga bahasa mereka minim pengaruh luar.
Meskipun demikian, sebagian masyarakat Badui Luar atau Panamping memiliki kemampuan bilingual yang memungkinkan mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan pendatang. Ethnologue menggolongkan bahasa Badui sebagai bahasa kuat atau vigorous dengan tingkat 6a dalam skala EGIDS.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSecara fonologi, bahasa Badui memiliki kemiripan dengan bahasa Sunda baku yakni sebanyak 25 fonem yang terdiri dari 7 vokal dan 18 konsonan. Namun terdapat variasi pengucapan pada beberapa fonem seperti pada kata tolu dan teuludanti lu untuk angka tiga.
Karakteristik Unik dan Sifat Egaliter Bahasa Badui
Bahasa Badui sering kali dianggap sebagai bahasa yang egaliter karena tidak mengenal sistem tingkatan berbahasa atau tatakrama basa Sunda berdasarkan status sosial. Hal ini membuatnya berbeda dari dialek bahasa Sunda lain di Priangan yang memiliki sistem tingkat tutur sangat kompleks.
Kendati demikian, interaksi intensif dengan masyarakat luar memunculkan interferensi leksikon dari bahasa Indonesia serta konsep kesopanan. Contohnya penggunaan kata pinggang yang dianggap lebih sopan untuk orang yang dihormati dibandingkan kata cangkéng.
Dalam hal tata bahasa dan morfologi, struktur kalimat bahasa Badui menggunakan pola subjek predikat objek layaknya bahasa Sunda pada umumnya. Penggunaan partikel khas seperti ari dan baé juga sering diulang oleh para penuturnya dalam percakapan sehari-hari.
Pewarisan tradisi kesusasteraan masyarakat Badui dilakukan secara lisan dari generasi ke generasi karena mereka tidak mengenal budaya tulis tradisional. Sastra lisan tersebut mencakup ungkapan kalender pertanian tradisional hingga cerita rakyat warisan leluhur.