Aktivitas menyetrika pakaian telah menjadi rutinitas harian sejak pertama kali digunakan di China pada abad pertama Sebelum Masehi untuk menghilangkan kerutan pada tekstil. Teknologi alat penghalus pakaian ini terus berkembang dari setrika datar manual yang berat pada abad ke-18 hingga penemuan setrika listrik pertama oleh Henry W. Seely pada abad ke-19 serta komersialisasi setrika uap oleh Eldec Company pada 1926.
Perkembangan zaman serta perubahan tren fesyen membuat kebutuhan masyarakat terhadap aktivitas menyetrika pakaian harian semakin menurun secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. Kesibukan gaya hidup modern serta popularitas steamer pakaian yang lebih praktis tanpa memerlukan papan khusus turut menggeser posisi setrika konvensional di rumah.
Faktor utama yang mengubah kebiasaan merawat pakaian ini adalah penemuan bahan anti kusut oleh kimiawan Ruth Benerito saat bekerja di United States Department of Agriculture pada 1950-an. Penemuan berupa pengolahan serat katun menggunakan mono-based acid chlorides tersebut melahirkan bahan katun alami bergaya wash-and-wear yang mampu menyelamatkan industri katun di tengah gempuran bahan sintetis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBahan anti kusut saat ini telah mengalami perkembangan pesat dengan hadirnya berbagai variasi tekstur dan pola pada kemeja, celana, serta gaun masa kini yang mudah dirawat. Kondisi tersebut membuat sebagian konsumen mulai beralih dan memanfaatkan papan setrika lama mereka untuk berbagai keperluan daur ulang kreatif di rumah.
Dibalik Alasan Pakaian Bebas Kerut Tanpa Setrika
Meskipun pakaian anti kusut kian mendominasi pasar, sebagian serat alami seperti katun masih membutuhkan sentuhan setrika sesekali agar tetap terlihat rapi dan segar. Perawatan pakaian formal tertentu tetap memerlukan pemanasan alat setrika untuk memastikan bagian lipatan baju tampak sempurna saat dikenakan dalam acara resmi.
Penggunaan pakaian bebas kerut juga perlu dicermati karena sebagian kain melalui proses kimia menggunakan resin mengandung formaldehida yang berisiko memicu alergi pada kulit sensitif. Kalangan konsumen yang peduli lingkungan biasanya menghindari bahan kimia tersebut dan beralih ke pakaian bersertifikasi OEKO-TEX STANDARD 100 yang lebih aman bagi kesehatan.
Keberadaan pakaian non-sintetis yang belum mendapat perobatan kimia khusus membuat keberadaan setrika di rumah tetap diperlukan guna mengatasi kerutan membandel pada tekstil tertentu. Pemilihan jenis kain yang tepat dapat meminimalisir kesalahan dalam mencuci pakaian agar terhindar dari kerutan berlebih sebelum memutuskan menyimpan alat setrika.
Evolusi perawatan tekstil dari masa ke masa menunjukkan bagaimana inovasi teknologi dan bahan pakaian mampu mengubah kebiasaan rumah tangga secara perlahan dalam menjaga penampilan pakaian tetap rapi tanpa harus menghabiskan waktu lama di depan papan setrika.