Mengutip laporan dari detikInet, Antartika ternyata tidak sekadar membeku karena penurunan suhu global, melainkan dipengaruhi oleh proses geologi bawah tanah yang bekerja selama jutaan tahun sebagai arsitek utama hamparan es raksasa tersebut.
Sebagaimana diwartakan dalam jurnal Science pada Juli 2026, penelitian yang membedah misteri Lapisan Es Antartika Timur ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut mulai membeku ketika kondisi bumi jauh lebih hangat sekitar 34 juta tahun lalu.
Berdasarkan analisis para ilmuwan dari University of Southampton, penurunan kadar karbon dioksida di atmosfer saja tidak cukup menjelaskan fenomena pembekuan kutub, sehingga dibutuhkan faktor pergerakan material di mantel Bumi atau mantle waves.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut penjelasan Prof Thomas Gernon selaku penulis utama penelitian, proses geologi tersebut telah mengangkat daratan Antartika Timur hingga melewati ketinggian 2 kilometer di atas permukaan laut jauh sebelum periode pembekuan masif terjadi.
Kondisi dataran tinggi yang dingin secara otomatis membuat salju lebih mudah menumpuk sepanjang tahun, memadat menjadi es, dan memicu efek albedo yang mempercepat proses pendinginan global secara signifikan.
Dikutip dari studi serupa, Dr Thea Hincks menambahkan bahwa pemodelan komputer canggih berhasil merekonstruksi bagaimana struktur pegunungan tersembunyi di bawah es menjadi titik awal lahirnya daratan es permanen di kutub selatan.
Kendati demikian, para ahli mengingatkan bahwa proses geologi yang memakan waktu ratusan juta tahun ini sangat berbeda dengan laju perubahan iklim modern akibat aktivitas manusia yang berlangsung sangat cepat dalam hitungan abad.