Seorang pendaki bernama Rob Martin asal Oakland, California, terjebak di tebing batu sempit selebar 6 inci pada ketinggian 11.000 kaki di Laurel Mountain pada 22 Agustus 2026. Berdasarkan laporan Tim SAR Kabupaten Mono, insiden bermula ketika pendaki berusia 51 tahun tersebut tanpa sengaja keluar dari jalur pendakian resmi dan terjebak di medan yang sangat curam.
Terjepit di antara dinding batu dan jurang terjal, Martin tidak dapat bergerak maju maupun mundur dengan aman sebelum akhirnya memutuskan menggunakan perangkat satelit untuk memanggil bantuan darurat. Kondisi lokasi tersebut dinilai sangat berbahaya oleh petugas karena jurang di bawahnya dapat menyebabkan kecelakaan fatal jika ia melakukan satu kesalahan kecil saja.
"Sangat menakutkan berada di posisi di mana Anda merasa satu gerakan salah saja dan semuanya selesai, saya mati," ujar Martin kepada The New York Times menceritakan detik-detik menegangkan saat bertahan di tebing batu yang terjal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeUpaya evakuasi awal melalui udara terkendala embusan angin kencang berkecepatan antara 35 hingga 46 mil per jam pada ketinggian 11.000 kaki yang melumpuhkan pergerakan helikopter penyelamat. Kondisi cuaca ekstrem tersebut memaksa tim penyelamat teknis mengubah strategi dengan mendaki gunung secara manual membawa perlengkapan tali sepanjang 1.200 kaki.
Operasi Penyelamatan Dramatis Sepanjang Malam
Tim penyelamat teknis yang beranggotakan 14 personel harus mengerahkan total 172 jam kerja sukarela untuk menjangkau posisi korban di tengah medan yang sangat menantang. Kelelahan fisik mulai dirasakan Martin setelah berjam-jam berdiri di atas tepian batu sempit dengan kram yang melanda otot kaki dan tangannya.
Empat penyelamat akhirnya berhasil mencapai lokasi korban menggunakan sistem tali dan jangkar pengaman sebelum malam berganti hari. Operasi penyelamatan dramatis tersebut resmi berakhir pada pukul 04.30 pagi keesokan harinya dengan membawa korban keluar dari celah tebing secara selamat.
Organisasi SAR setempat memberikan apresiasi tinggi atas ketahanan mental serta keputusan tepat korban yang segera menghubungi layanan darurat saat menyadari dirinya berada dalam bahaya. Keberhasilan operasi ini kembali menunjukkan pentingnya kesiapan alat komunikasi satelit bagi para pendaki di wilayah pegunungan ekstrem.
Kasus serupa menambah daftar panjang operasi penyelamatan ekstrem di jalur pendakian Amerika Serikat sepanjang tahun 2026 yang mengandalkan keahlian khusus tim relawan penyelamat gunung.