Proses checkout e-commerce menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya transaksi yang diselesaikan oleh agen kecerdasan buatan alih-alih manusia. Berdasarkan laporan Search Engine Journal pada Kamis, 4 September 2026, Presiden Shopify Harley Finkelstein mencatatkan lonjakan pesanan melalui pencarian berbasis AI hingga 15 kali lipat sejak Januari 2025.
Lonjakan tersebut didorong oleh tiga protokol utama yang berkembang pesat dalam satu tahun terakhir, yaitu Universal Commerce Protocol dari Google, Agentic Commerce Protocol dari OpenAI, serta Agentforce Commerce dari Salesforce. Sejumlah jenama besar seperti Glossier, Spanx, dan Vuori telah mengadopsi sistem perdagangan baru ini untuk menjangkau pembeli melalui platform digital.
Namun, visibilitas produk yang baik di platform AI belum tentu menjamin keberhasilan transaksi penjualan. Pendiri QAwerk Konstantin Klyagin menjelaskan bahwa cara belanja agen AI sangat berbeda dengan manusia yang sering berpindah halaman atau berhenti sejenak sebelum memutuskan membeli.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebuah agen AI mengeksekusi panggilan API terstruktur dalam hitungan detik untuk menyelesaikan transaksi secara cepat. Kecepatan mesin tersebut kerap memicu sistem keamanan seperti deteksi bot atau pembatasan laju karena mengira aktivitas tersebut merupakan ancaman otomatisasi.
Selain masalah kecepatan, inkonsistensi data produk antar komponen sistem sering membuat transaksi terhenti di tengah jalan tanpa bisa diselesaikan oleh agen AI. Oleh karena itu, pengujian infrastruktur dan sinkronisasi data menjadi prioritas penting bagi para pelaku ritel digital agar penjualan tidak gagal di tahap akhir.
Dari analisis Kabayan News, tren perdagangan agen AI menuntut perusahaan e-commerce untuk segera menyesuaikan kesiapan infrastruktur backend mereka agar mampu melayani transaksi otomatis dengan lancar.