Sebagaimana diwartakan, puncak musim kemarau yang berlangsung sejak Agustus hingga Oktober mendatang berpotensi memicu penurunan debit air di sejumlah sumber mata air yang ada di wilayah Kabupaten Bangli.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bangli, I Ketut Agus Sutapa, menyatakan bahwa sejumlah daerah di wilayah tersebut belum ada yang melaporkan persoalan krisis air bersih.
Dalam keterangannya, Agus Sutapa menjelaskan bahwa secara karakteristik sebanyak 22 sumber mata air yang dimanfaatkan di empat kecamatan masih dalam kondisi cukup baik sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePihaknya mengakui adanya peningkatan permintaan air bersih hingga 10 persen terutama di kawasan pertanian atau perkebunan, namun hal tersebut belum sampai menimbulkan darurat krisis.
Mengutip pernyataan pejabat BPBD tersebut, "Bangli berpotensi mengalami penurunan debit air saat puncak kemarau, namun penurunan di sumber mata air tersebut tidak serta merta memicu krisis air bersih".
Selain ancaman kekeringan lokal, BPBD juga mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi berupa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Kintamani serta lereng Gunung Batur akibat kelalaian manusia.