Sebagaimana diwartakan oleh media Belanda NRC, pemerintah Belanda secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada ribuan korban yang mengalami kekerasan dan penindasan dalam sistem lembaga perlindungan anak tertutup. Menteri Perawatan Jangka Panjang, Pemuda, dan Olahraga Mirjam Sterk menyampaikan penyesalan mendalam tersebut di hadapan para korban dan keluarga di kota Ede.
Berdasarkan laporan tersebut, sekitar 20.000 anak muda dilaporkan pernah menjadi korban dari praktik indisipliner yang represif di dalam lembaga tersebut. Berbagai bentuk penyiksaan yang dialami meliputi isolasi berkepanjangan, penghinaan verbal, pemaksaan kontrasepsi, hingga kekerasan fisik dan seksual yang meninggalkan trauma mendalam.
Meski disambut sebagai sebuah langkah awal pengakuan yang penting oleh beberapa korban seperti Kaylee van Tilburg dan Anne Krijtenburg, respons tajam justru dilontarkan oleh korban lainnya. Gunou Mahmoud secara terbuka melontarkan kritik pedas dan menyebut acara seremonial tersebut tidak lebih dari sebuah sandiwara politik belaka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKritik serupa juga datang dari kalangan akademisi, di mana Guru Besar Universitas Amsterdam Peer van der Helm menilai langkah pemerintah tersebut sarat akan kemunafikan. Menurutnya, permintaan maaf terasa hambar karena praktik penahanan tertutup bagi anak-anak bermasalah nyatanya masih terus berlanjut hingga hari ini.
Di sisi lain, Ketua Jeugdzorg Nederland Ahmed Aboutaleb berupaya membela langkah transisi yang sedang dikerjakan oleh para pengelola lembaga sosial tersebut. Ia menyatakan bahwa proses penghapusan sistem penahanan tertutup ini harus dilakukan secara sangat hati-hati agar tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Pemerintah Belanda sendiri menargetkan sistem perlindungan anak tertutup ini dapat dihapuskan sepenuhnya pada tahun 2030 mendatang. Namun bagi para korban yang masa mudanya telah direnggut oleh sistem yang rusak, kompensasi dan permintaan maaf saja dinilai masih jauh dari kata cukup untuk memulihkan luka batin yang mereka derita.