Sebagaimana diwartakan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan peringatan keras kepada para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik yang mengancam kesehatan anak-anak akibat aktivitas erupsi gunung berapi.
Berdasarkan laporan, anak-anak dinilai sebagai kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan serius, khususnya pada sistem pernapasan, akibat menghirup partikel berbahaya tersebut.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik berpotensi memicu berbagai gangguan pernapasan akut pada anak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," ungkap Wahyuni dalam keterangan tertulisnya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari debu biasa di lingkungan sehari-hari karena terdiri atas pecahan batuan, mineral, serta kaca vulkanik berukuran sangat halus dengan permukaan yang tajam.
Partikel abrasif tersebut dapat dengan mudah menggores serta mengiritasi saluran pernapasan ketika terhirup, ditambah dengan adanya kandungan gas iritan seperti sulfur dioksida dan karbon monoksida yang memperparah peradangan.
Risiko kesehatan yang lebih tinggi juga mengancam kelompok anak dengan kondisi khusus, seperti bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal, penderita penyakit jantung bawaan, serta anak yang memiliki riwayat alergi.
Menanggapi situasi tersebut, pihak IDAI meminta seluruh orang tua agar tidak menganggap remeh perubahan kondisi kesehatan pernapasan yang dialami anak setelah terpapar material vulkanik.
"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," tegas Wahyuni.
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menegaskan bahwa keselamatan dan perlindungan terhadap anak harus selalu menjadi prioritas utama dalam menghadapi bencana erupsi.
"Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Di tengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat," tutur Piprim.
Sebagai langkah antisipasi pencegahan, UKK Respirologi IDAI turut merekomendasikan agar anak-anak untuk sementara waktu tetap berada di dalam rumah atau diungsikan menjauh dari wilayah yang terdampak langsung oleh letusan gunung.