Sebagaimana diwartakan, derasnya arus informasi di era digital saat ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi para orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang Generasi Alpha.
Berdasarkan laporan media, penguatan keimanan dinilai sangat krusial agar anak-anak memiliki benteng pertahanan dari dalam diri ketika menghadapi berbagai informasi bebas serta pergaulan di ruang digital.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ustazah Sri Handayani, Sekretaris Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah PRNA Nglegok, Ponorogo, saat mengisi program Mutiara Pagi Pro1 RRI Surabaya pada Sabtu, 5 September 2026.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut penjelasan narasumber, Generasi Alpha tumbuh sebagai digital native yang terbiasa memperoleh berbagai informasi secara cepat dan mandiri, sehingga pola pengasuhan harus disesuaikan dengan karakter zaman.
"Tantangan kita sebagai orang tua adalah bagaimana membersamai Gen Alpha di era digitalisasi. Mereka terbiasa mencari informasi secara instan dan mandiri, sehingga yang dibutuhkan bukan hanya pengawasan, tetapi pendampingan," ujar Sri Handayani.
Selain kemudahan akses, ruang digital juga menyimpan berbagai ancaman moral yang serius, mulai dari penurunan empati akibat kurangnya interaksi langsung, budaya pamer atau flexing, krisis identitas, hingga risiko paparan konten negatif sejak usia dini.
Mengutip data UNICEF Indonesia tahun 2023, tercatat sebanyak 50,3 persen anak yang diteliti pernah melihat gambar atau konten seksual di media sosial, sebuah angka yang mengkhawatirkan bagi dunia pendidikan anak.
Oleh karena itu, orang tua diimbau untuk menanamkan jangkar iman sejak dini sebagai kontrol internal agar anak menyadari bahwa setiap aktivitas di dunia maya selalu berada dalam pengawasan Sang Pencipta.
"Kita tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam. Yang harus dibangun adalah kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Apa yang mereka lihat, baca dan dengar di media sosial juga akan dimasyarakatkan pertanggungjawabannya," tambahnya.
Pesan moral tersebut sejalan dengan nilai-nilai agama, di antaranya melalui firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 36 serta hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menegaskan tanggung jawab seorang pemimpin keluarga.
Lebih lanjut, pembentukan karakter anak tidak bisa hanya diandalkan melalui aturan dan larangan kaku, melainkan menuntut orang tua untuk hadir sebagai teladan nyata dalam pemakaian gawai sehari-hari.
Komunikasi dialogis yang terbuka juga diperlukan agar anak merasa memiliki ruang aman untuk bercerita, sementara teknologi diarahkan secara bijak dengan pembatasan waktu layar atau screen time yang konsisten.