Restoran di berbagai kota besar kini mulai mengandalkan gambar buatan kecerdasan buatan atau AI untuk mempromosikan menu mereka kepada para pelanggan.
Fenomena yang dijuluki sebagai AI slop ini mencuat setelah sejumlah unggahan di media sosial menyoroti papan iklan di luar kafe dan deli yang menampilkan foto makanan dengan detail terlalu sempurna.
Bagi pelaku usaha kuliner skala kecil, teknologi generatif ini menawarkan solusi praktis dan murah untuk memasarkan produk tanpa harus menyewa fotografer profesional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati demikian, sebagian pelanggan merasa kecewa karena visual yang terpajang di iklan jauh berbeda dengan realitas hidangan yang tersaji di atas meja.
Daya Tarik Efisiensi di Balik Kontroversi AI Slop
Perdebatan ini menyoroti dilema lama dalam dunia periklanan mengenai seberapa jauh sebuah gambar promosi boleh dimanipulasi sebelum dianggap menipu konsumen.
Pemilik kafe Grind & Unwind di San Francisco, AJ dan Lyndsey Lozano, mengakui bahwa mereka sempat memasang menu sementara berisi gambar buatan AI saat baru memulai bisnis kulinernya.
Langkah serupa juga diambil oleh manajer Chi-Town Deli di Chicago, Ali Malik, yang menggunakan foto sandwic hasil AI sembari menunggu papan reklame asli selesai dibuat.
Para pemilik usaha kecil berdalih bahwa penggunaan visual tersebut bersifat sementara untuk menghemat waktu dan biaya operasional yang terbatas di awal pembukaan.
Namun, pakar hukum periklanan dari Harvard Law School, Rebecca Tushnet, menjelaskan bahwa penggunaan gambar rekaan sebenarnya telah lama diatur dalam industri pemasaran.
Batasan hukumnya terletak pada apakah visual tersebut berpotensi memberikan klaim palsu yang menyesatkan ekspektasi konsumen terhadap komposisi atau kualitas makanan yang dijual.