Sebagaimana diwartakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan bahwa fenomena El Nino di Indonesia saat ini berada dalam fase yang sangat kuat. Kondisi atmosfer tersebut diperkirakan masih akan terus berlangsung dan baru akan berangsur melemah pada awal tahun depan.
Berdasarkan laporan dari Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto, situasi ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena terjadi berbarengan dengan periode musim kemarau di berbagai wilayah tanah air. Keadaan tersebut praktis memicu potensi kekeringan yang jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Mengutip keterangan resmi pihak BMKG, musim kemarau panjang ini diperkirakan baru akan berakhir sepenuhnya pada November 2026. Meski demikian, eskalasi bencana seperti kebakaran hutan dan lahan diprediksi mulai mereda seiring masuknya bulan transisi pada Oktober mendatang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenanggapi situasi darurat ini, pemerintah bergerak cepat dengan menggelar langkah mitigasi terpadu. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djamari Chaniago bahkan secara khusus memimpin rapat koordinasi guna mengantisipasi ancaman karhutla yang masih mengintai.
Rapat strategis yang dilangsungkan di Jakarta tersebut turut melibatkan jajaran ptinggi negara, mulai dari Panglima TNI hingga Kepala BIN. Langkah antisipasi ini diambil mengingat ancaman kekeringan dan karhutla memerlukan kolaborasi lintas sektor yang kuat antara pemerintah pusat dan pelaku industri.